Preppers

Preppers

Mungkin teman teman masih asing dengan istilah ini. Selama ini mayoritas orang hanya menabung (uang) untuk berjaga jaga terhadap ketidakpastian masa depan. Preppers setingkat di atas itu. Mereka menyadari ada saatnya uang tidak berdaya, mis: saat seseorang tiba tiba terkena serangan jantung, ada uang pun belum tentu bisa segera beli obat. Sedangkan setiap detik begitu berharga untuk menyelamatkan jiwa.

Jepang merupakan salah satu negara yang mendidik rakyatnya untuk jadi preppers sejak usia dini. Saya dengar dari sahabat yang pernah bertugas sebagai atase di Kedubes RI, setiap kolong meja anak anak sekolah ada tas berisi perlengkapan survival. Andaikan tiba tiba terjadi gempa, bangunan rubuh dan terperangkap di dalam. Paling tidak kebutuhan primer untuk bertahan hidup beberapa hari tersedia. Selimut, makanan, minuman sampai kantong untuk nampung pipis.

Itu sebabnya saat terjadi tsunami dahsyat di Jepang tempo hari, tidak terdengar adanya berita penjarahan. Selain BUDAYA MALU untuk menjarah, juga karena sudah siap sedia sejak dini. Ada kenalan saya yang kebetulan tinggal tidak begitu jauh dari reaktor nuklir, mereka juga disediakan baju anti radiasi untuk antisipasi.

Saya termasuk prepper tapi masih skala kecil kecilan. Di rumah selalu tersedia stock makanan dan air untuk kebutuhan minimal 1 minggu. Seandainya suhu politik memanas, saya berusaha meluangkan waktu untuk belanja stock tambahan. Paling utama adalah makanan cepat/ siap saji dan tahan lama, mis: biskuit, kacang, cereal, mie instan. Tentu saja tidak lupa air minum dalam kemasan dan obat-obatan yang dipandang perlu.

Jika keluar rumah (lebih tepatnya keluar kompleks) saya suka bawa sling bag yang diledek teman-teman sebagai TAS DORAEMON. Hahaha.. Karena kalau dikeluarkan isinya banyak dan lumayan komplit: multitools Leatherman Wave yang bermanfaat buat survival, obat-obatan (minyak angin, promag, handyplast, rohto, betadine, plester, obat jantung, dll), obeng mini, magnesium rod (bahan pembuat api darurat), minimal 2 senter dan beberapa baterai cadangan.

Obat jantung? Yup, betul sekali. Saya ngak punya riwayat penyakit jantung. Tapi ngak ada salahnya bawa obat buat jaga-jaga. Siapa tahu bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Orang jaman dulu ada peribahasa, menolong satu nyawa lebih besar pahalanya dibanding bangun pagoda bertingkat 7. Menjadi prepper selain menolong diri sendiri juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Paling minimal pada saat terjadi bencana tidak perlu menjarah untuk bertahan hidup.

Semoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *